Silahkan dilihat
This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Enter Slide 2 Title Here
This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Enter Slide 3 Title Here
This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Enter Slide 4 Title Here
This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Friday, September 4, 2015
Thursday, May 14, 2015
Perjalanan ke Pulau Kalimantan
Borneo tampaknya selalu menyulap gambar mistik dari dunia yang tidak dikenal. Nama yang sangat nya menunjukkan hutan belantara dan dunia penuh dengan binatang liar. Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia dan pulau terbesar di Asia. Ini adalah rumah dari penyu dan orangutan, suku-suku asli kuno dan salah satu tertua hujan-hutan dunia

Borneo tampaknya selalu menyulap gambar mistik dari dunia yang tidak dikenal. Nama yang sangat nya menunjukkan hutan belantara dan dunia penuh dengan binatang liar. Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia dan pulau terbesar di Asia. Ini adalah rumah dari penyu dan orangutan, suku-suku asli kuno dan salah satu tertua hujan-hutan dunia.
Jadi apa rasanya perjalanan ke pulau Borneo?
Lanskap harum mengatur adegan. Hutan tropis meluas sejauh mata dapat melihat, pegunungan bergelombang tercakup dalam bersaing nuansa hijau. Sungai besar berliku-liku melalui pohon-pohon, merayap menuju bakau dan penyaringan ke dalam rawa tebal. Air biru yang kaya mengelilingi pulau terbesar ketiga di dunia, tapi ada banyak lagi di sini daripada hanya pantai yang indah dan resor.

Mengapa perjalanan ke Pulau Kalimantan?
Orang-orang datang ke Kalimantan untuk karunia pemandangan unik. Satwa liar endemik bersembunyi di pohon-pohon dan itu banyak dicari oleh wisatawan dan pemburu. Orangutan Borneo dapat mengambil uang besar di pasar gelap, dan Sepilok Orangutan Centre didirikan untuk merehabilitasi bayi yatim piatu dan kemudian mengintegrasikan mereka ke alam liar. Anda tidak perlu teropong untuk melihat mereka.
Berayun melalui pohon-pohon, sering hanya beberapa meter dari wisatawan, adalah geng seluruh orangutan main-main. Pusat ini memiliki tangan off pendekatan untuk perawatan mereka, namun primata mendambakan perhatian pribadi. Percaya diri dan ingin tahu, mereka melompat ke arah orang, kerutan untuk ciuman ceroboh dan mengirim tangan nakal ke terbuka backpacks.Be-hati, karena pernah menjadi orangutan telah mencuri kacamata hitam Anda, mereka tidak mungkin untuk memberikan mereka kembali.
Mereka genetik 97,4% identik dengan manusia, dan mereka berbaris di sepanjang trotoar memegang tangan dengan pengunjung. Semua ini diperbolehkan tentu saja, tetapi berusaha untuk menghentikan orangutan dari bersenang-senang cukup sulit.
Perjalanan ke Pulau Kalimantan
Jadi apa rasanya perjalanan ke pulau Borneo?
Lanskap harum mengatur adegan. Hutan tropis meluas sejauh mata dapat melihat, pegunungan bergelombang tercakup dalam bersaing nuansa hijau. Sungai besar berliku-liku melalui pohon-pohon, merayap menuju bakau dan penyaringan ke dalam rawa tebal. Air biru yang kaya mengelilingi pulau terbesar ketiga di dunia, tapi ada banyak lagi di sini daripada hanya pantai yang indah dan resor.
Mengapa perjalanan ke Pulau Kalimantan?
Orang-orang datang ke Kalimantan untuk karunia pemandangan unik. Satwa liar endemik bersembunyi di pohon-pohon dan itu banyak dicari oleh wisatawan dan pemburu. Orangutan Borneo dapat mengambil uang besar di pasar gelap, dan Sepilok Orangutan Centre didirikan untuk merehabilitasi bayi yatim piatu dan kemudian mengintegrasikan mereka ke alam liar. Anda tidak perlu teropong untuk melihat mereka.
Berayun melalui pohon-pohon, sering hanya beberapa meter dari wisatawan, adalah geng seluruh orangutan main-main. Pusat ini memiliki tangan off pendekatan untuk perawatan mereka, namun primata mendambakan perhatian pribadi. Percaya diri dan ingin tahu, mereka melompat ke arah orang, kerutan untuk ciuman ceroboh dan mengirim tangan nakal ke terbuka backpacks.Be-hati, karena pernah menjadi orangutan telah mencuri kacamata hitam Anda, mereka tidak mungkin untuk memberikan mereka kembali.
Mereka genetik 97,4% identik dengan manusia, dan mereka berbaris di sepanjang trotoar memegang tangan dengan pengunjung. Semua ini diperbolehkan tentu saja, tetapi berusaha untuk menghentikan orangutan dari bersenang-senang cukup sulit.
Perjalanan yang lebih luar biasa Ketika Anda ke Pulau Kalimantan
Borneo dibagi menjadi dua. Bagian selatan Indonesia hampir tak tertembus, menawarkan sedikit tapi menantang ekspedisi ke hutan hujan. Bagian Malaysia lebih ramah pengunjung, khususnya provinsi timur utara Sabah. Ini di mana Anda akan menemukan orangutan, lucu melompat-lompat dan menggunakan tangan berbulu mereka untuk membebaskan biskuit dan topi.
Juga tinggal di pohon-pohon di sini adalah badak Sumatera, spesies yang terancam punah yang juga menawan kedua pemburu dan pengunjung. Pada tiga hari perjalanan kano wisatawan mencoba dan mendapatkan sekilas dari mereka di alam liar, sekilas sembunyi-sembunyi di mamalia megah lamban melalui pohon-pohon. Tanduk Imperial melambangkan kekuasaan mereka dan perlindungan sengit wilayah. Tapi mata menggugah dan gerakan anggun menunjukkan bahwa ini adalah raksasa lembut.
Menemukan Dunia yang belum dijinakkan
Ketika Anda melakukan perjalanan ke pulau Kalimantan itu tidak selalu mudah, terutama ketika bepergian jalan yang jarang dilalui. Bepergian turis bagian non pulau ini kadang-kadang lambat dan rumit, jalan berlumpur berjuang untuk menusuk jalan melalui hutan hujan. Panas dan kelembaban mengambil korban sehari-hari, sering meninggalkan semua orang mencari tidak ada unit AC. Dan kombinasi ganas lintah dan nyamuk suka menempel pada pergelangan kaki pada hutan treks dengan berjalan kaki.
Sangat disarankan adalah nyata tiga hari perjalanan kano ada tapi hutan hujan liar. Perahu tenang mengapung melalui hutan mangrove overhanding, melewati merayap akar dan seratus nuansa hijau. Nyanyian burung dan monyet obrolan turun dari puncak pohon, sementara suku-suku kuno masih dapat ditemukan hidup di tengah-tengah dari mana. Untuk pergi dengan berjalan kaki akan berbahaya dan hampir mustahil. Pergi dengan sungai dan dunia liar unfurls di depan mata Anda.
Mencari sesuatu yang sedikit kurang petualang? Bukan masalah! Borneo penuh indah pantai indah seperti yang satu ini.
Satu lagi alasan untuk mengjunjungi Borneo
Ada lebih untuk menemukan, kali ini dari air yang mengelilingi Borneo. Penyelam terkenal Jacques Cousteau pernah menggambarkan puncak bawah laut Pulao Sipadan sebagai "sepotong tersentuh seni." Ini hampir 200 meter, dan itu bisa dibilang puncak dari perjalanan ke pulau Kalimantan. Berjalan keluar sepuluh meter dari pantai dan air dengan tenang lolls sekitar pinggang. Mengambil langkah lain dan Anda jatuh dari tepi 800 meter yang vertikal tebing bawah laut.
Sebuah arus kuat menarik Anda di sekitar puncak, mudah mengambil penyelam terakhir ratusan hiu karang ujung putih dan sekolah raksasa barracuda. Ini adalah situs menyelam yang memompa adrenalin up dan menarik pada saraf. Tapi makhluk laut di mana-mana lain menenangkan semuanya. Penyu di mana-mana, elegan berenang di sekitar pulau Kalimantan, kerang indah mereka kontras air laut jernih. Mereka simbol dari pengalaman ketika Anda melakukan perjalanan ke Pulau Kalimantan.
Ini bukan tujuan pulau yang khas. Hal ini dapat menantang dan itu mil jauhnya dari yang ideal jika Anda bepergian ke luar dari resor. Tapi siapa pun disiapkan untuk memakai lapisan pelindung akan menemukan bahwa mereka sendirian di salah satu dari beberapa wildernesses yang tersisa di dunia.
Ada lebih untuk menemukan, kali ini dari air yang mengelilingi Borneo. Penyelam terkenal Jacques Cousteau pernah menggambarkan puncak bawah laut Pulao Sipadan sebagai "sepotong tersentuh seni." Ini hampir 200 meter, dan itu bisa dibilang puncak dari perjalanan ke pulau Kalimantan. Berjalan keluar sepuluh meter dari pantai dan air dengan tenang lolls sekitar pinggang. Mengambil langkah lain dan Anda jatuh dari tepi 800 meter yang vertikal tebing bawah laut.
Sebuah arus kuat menarik Anda di sekitar puncak, mudah mengambil penyelam terakhir ratusan hiu karang ujung putih dan sekolah raksasa barracuda. Ini adalah situs menyelam yang memompa adrenalin up dan menarik pada saraf. Tapi makhluk laut di mana-mana lain menenangkan semuanya. Penyu di mana-mana, elegan berenang di sekitar pulau Kalimantan, kerang indah mereka kontras air laut jernih. Mereka simbol dari pengalaman ketika Anda melakukan perjalanan ke Pulau Kalimantan.
Ini bukan tujuan pulau yang khas. Hal ini dapat menantang dan itu mil jauhnya dari yang ideal jika Anda bepergian ke luar dari resor. Tapi siapa pun disiapkan untuk memakai lapisan pelindung akan menemukan bahwa mereka sendirian di salah satu dari beberapa wildernesses yang tersisa di dunia.
Monday, May 11, 2015
Asal usul Minangkabau
Pertanyaan soal asal-usul leluhur penduduk Minangkabau sesungguhnya bukan isu baru karena sudah sejak lama menjadi perbincangan. Namun sayangnya, jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak ada yang meyakinkan, banyak yang masih mereka-reka dan berupa hipotesa belaka. Ketidak pastian ini barangkali ada kaitannya dengan tidak terbiasanya orang Minang jaman dahulu dengan budaya sejarah tulisan.
Kenyataan ini membuat tim penyusun buku Sejarah Minangkabau oleh drs. M.D. Mansoer dkk di tahun 1970 harus bekerja ekstra keras. Yang banyak beredar adalah buku-buku tambo seperti “Tambo Alam Minangkabau” dan “kaba”
yang cukup banyak jumlahnya, namun hanya selintas menyinggung perihal
kehidupan orang Minangkabau di masa lalu. Hingga tahun 1970 masih belum
ada usaha yang serius dan efektif untuk menyelidiki dan menyaring
fakta-fakta sejarah Minangkabau dari tambo-tambo dan kaba-kaba itu.
Cerita-cerita rakyat yang dipusakai (sebagian besar secara lisan), turun
temurun dan baru sebagian kecil yang dibukukan, setidak-tidaknya berisi
“2% fakta sejarah” yang tenggelam dalam “98% mitologi”. Bagaimana
menggali dan menyisihkan 2% fakta sejarah dari 98% (lumpur) mitologi itu
merupakan persoalan tersendiri. Pada umumnya tambo-tambo dan kaba-kaba
itu baru diusahakan (sebagian kecil) penulisannya, ketika Minangkabau
telah mengenal tulisan. Tulisan itu, abjad Arab, lazim disebut “huruf
Melayu.” Kenyataan ini mengandung makna, bahwa orang Minangkabau baru
pandai tulis baca, setelah mereka beragama Islam.
Berikut ini marilah kita ikuti rangkuman pandangan dan kesimpulan dari para sejarawan terhadap asal penduduk Minangkabau di Sumatera Barat.
Menurut sebagian sejarawan, kebudayaan Minang diperkirakan bermula sekitar 500 tahun SM, ketika rumpun bangsa Melayu Muda masuk ke Ranah Minang membawa kebudayaan Perunggu. Pembauran bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda menurunkan leluhur suku Minangkabau sebagai pendukung kebudayaan Perunggu dan Megalitikum.
Adapun peninggalan jaman pra-sejarah berupa situs-situs Menhir hanya ditemukan di kabupaten Limapuluh Kota (kecamatan Suliki dan Guguk). Situs-situs Megalith tersebut tersebar di daerah Koto Tinggi, Balubus, Sungai Talang, Koto Gadang, Ateh Sudu dan Talang Anau. Di desa Parit (daerah Koto Tinggi) berhasil ditemukan situs Megalith terbanyak yakni 380 Menhir, yang diantaranya mencapai tinggi 3,26m.
Di Minangkabau istilah yang dipakai untuk menhir adalah batu tagak. Istilah ini biasa dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti batu berdiri.
Menhir merupakan bagian dari produk tradisi megalitik yang menggunakan batu-batu besar sebagai material kebudayaannya; mega berarti besar dan lithosberarti batu. Sejarah pendirian menhir telah berlangsung sejak zaman neolitik sekitar 4500 tahun yang lalu. Awal kemunculannya hampir bersamaan dengan produk tradisi megalitik lainnya yang seangkatan seperti dolmen, teras berundak (bertingkat) dan lain-lain.
Di daerah darek, daerah inti kebudayaan Minangkabau, menhir ditemukan paling banyak di kabupaten Limapuluh Kota, kemudian disusul dengan kabupaten Tanah Datar. Di kabupaten Tanah Datar dijumpai ribuan menhir bersamaan dengan temuan-temuan lain seperti batu dakon dan lumpang batu. Menhir-menhir tersebut muncul dalam bentuk yang beragam, ada yang berbentuk tanduk, pedang, phallus dan beberapa bentuk kepala binatang.
Di kabupaten Tanah Datar juga terdapat menhir-menhir yang sebetulnya sudah difungsikan sebagai nisan kubur Islam yang hampir semuanya berorientasi menghadap ke utara-selatan. Dengan demikian dapat dipastikan menhir-menhir di Kabupaten Tanah Datar umurnya jauh lebih muda jika dibandingkan dengan menhir-menhir di Kabupaten Limapuluh Kota.
Melayu Purba Pembawa Tradisi Megalitik ke Minangkabau?
Pada ekskavasi arkeologis yang dilakukan di situs megalitik Ronah, Bawah Parit, Belubus berhasil ditemukan rangka manusia dari penggalian menhir di lokasi tersebut. Di Bawah Parit dan Belubus ditemukan rangka manusia yang berorientasi hadap barat laut – tenggara, sementara di Ronah sebagian berorientasi timur laut – barat daya, dan sebagian lagi berorientasi utara – selatan (Boedhisampurno 1991).
Jenis rangka manusia tersebut dapat digolongkan sebagai ras Mongoloid (Boedisampurno 1991: 41), yang mengandung unsur Austromelanesoid yang diperkirakan hidup 2000-3000 tahun lalu (Aziz 1999).
Menurut Kern dan Heine Geldern, seperti yang dikutip Soekmono (1973), migrasi ras Mongoloid dari daratan Asia ke Nusantara telah berlangsung dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama mulai pada masa neolitikum yang membawa budaya kapak bersegi terjadi sekitar 2000 SM yang oleh para ahli digolongkan sebagai kelompok Melayu Tua (Proto Melayu), sementara itu gelombang kedua muncul pada zaman logam yang membawa kebudayaan Dongson yang dimulai 500 SM, digolongkan sebagai kelompok Melayu Muda (Deutro Melayu). Soekmono mengatakan bahwa pada zaman logam ini disamping kebudayaan logam, juga dibawa kebudayaan megalitik (kebudayaan yang menghasilkan bangunan dari batu-batu besar) sebagai cabang kebudayaan Dongson (Soekmono 1973).
(Dongson adalah nama tempat di selatan Hanoi yang dianggap sebagai asal kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Konon kebudayaan Dongson ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hallstatt, Austria).
Tampaknya kebudayaan ini dikembangkan oleh ras Mongoloid yang berpangkalan di Indo China dan berkembang dengan pesatnya di zaman Megalitikum dan zaman Hindu. Nenek moyang orang Minangkabau itu datang dari daratan Indo China terus mengarungi Lautan Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian memudiki Sungai Kampar, Siak dan Indragiri. Sebagian diantaranya mengembangkan kebudayaan serta peradaban mereka di sekitar Kabupaten Limapuluh Kota sekarang.
Dengan ditemukannya rangka manusia tersebut telah memperkuat teori bahwa telah terjadi migrasi ras Melayu Purba (yang berbahasa Austronesia) ke Sumatera, terutama Sumatera bagian Tengah. Oleh sebab itu barangkali kita sepakat bahwa nenek moyang bangsa Minangkabau yang berasal dari daratan Asia, yang telah datang ke wilayah ini mulai sejak zaman pra-sejarah dapat digolongkan ke dalam Melayu Muda (Deutro Melayu).
Di dalam historiografis tradisional, seperti kaba (tradisi lisan) dan tambo (yang bagi kalangan tertentu mempercayainya 100%) dikatakan Minangkabau terdiri atas tiga luhak, selalu dikatakan dan sudah menjadi paradigma tunggal bahwa Tanah Datar adalah luhak tertua tempat dirintis dan disusun pertama kali adat istiadat Minangkabau (Agam sebagai yang tengah dan Limapuluh Kota dianggap sebagai Luhak Nan Bungsu). Dengan adanya temuan tradisi megalitik di Limapuluh Kota yang lebih tua dari Tanah Datar, paradigma tradisional itu kini dipertanyakan kembali (Herwandi 2006).
Sementara menurut Bellwood (1985), penduduk Sumatera adalah imigran dari Taiwan dengan jalur dari Taiwan ke Pilipina, melalui Luzon terus ke Kalimantan dan kemudian ke Sumatera. Kesimpulan ini diambil Bellwood berdasarkan perbandingan bahasa. Bahasa yang digunakan oleh penduduk Sumatera, menurut Bellwood termasuk kelompok Western Malayo Polynesian (WMP) yang merupakan turunan dari Proto Malayo Polynesian (PMP). PMP adalah turunan dari Proto Austronesian (PAN) yang diperkirakan digunakan oleh penduduk Taiwan pada sekitar tahun 3000 SM.
Dari hasil penelitian, bahasa Minangkabau 50% kognat dengan PMP.
Jadi menurut kajian awal dan bukti linguistis, disimpulkan bahwa dialek bahasa yang konservatif ditemui di kabupaten Limapuluh Kota. Daerah tersebut dihipotesiskan sebagai daerah pertama yang didiami oleh orang Minangkabau di Sumatera Barat, sesuai dengan bukti arkeologis yang dibahas di awal artikel ini.
Dengan demikian cerita yang ada dalam tambo dan kaba bahwa Tanah Datar merupakan daerah tertua di Minangkabau tidaklah masuk akal, hanya suatu mitos belaka. Logikanya, perluasan wilayah Minangkabau dari daratan rendah ke daratan tinggi; melalui sungai atau pantai ke pegunungan (Nadra, 1999).
Pandangan kontroversial Professor Stephen Oppenheimer
Buku Eden in The East karya Professor Stephen Oppenheimer yang mengulas soal Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara mengisahkan bahwa Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi benua dan tempat peradaban manusia di penghujung Zaman Es. Professor Stephen Oppenheimer adalah seorang peneliti dari Universitas Oxford di Inggris, pakar genetika yang juga mendalami antropologi dan folklore yang mengkaji dongeng-dongeng dunia. Oppenheimer meyakini bahwa Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi benua dan tempat peradaban manusia di penghujung Zaman Es. Benua ini disebutnya dengan istilah Sundaland.
Dalam buku tersebut, Oppenheimer seolah memutar balik sejarah dunia. Bila selama ini sejarah mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia, maka Oppenheimer punya tesis sendiri.
Buku Eden in the East merupakan hasil penelitian Oppenheimer selama bertahun-tahun yang dilakukannya di berbagai negara. Benua Sundaland yang disebut oleh Oppenheimer tentu saja tidak bisa dibayangkan seperti bentuk wilayah ASEAN saat ini yang terdiri dari Indonesia, Semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan. Wilayah ini dulunya masih menjadi satu, yaitu Sundaland.
Benua ini menurut Oppenheimer ada pada sekitar 14.000 tahun yang silam, sudah didiami oleh manusia. Saat itu, Taiwan terhubung langsung dengan China. Tidak ada Laut Jawa, Selat Malaka dan Laut China Selatan. Semua adalah daratan kering yang menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan dan China. Yang dari dahulu sudah terpisah lautan adalah Sulawesi, Maluku dan Papua yang memiliki laut dalam.
Menurut Oppenheimer, dari 14.000 tahun lalu itulah Zaman Es mulai berakhir. Oppenheimer menyebutnya banjir besar. Namun menurut dia, banjir ini bukannya terjadi mendadak, melainkan naik perlahan-lahan.
Dalam periode banjir pertama, air laut naik sampai 50 meter. Ini terjadi dalam 3.000 tahun. Separuh daratan yang menghubungkan China dengan Kalimantan, terendam air.
Kemudian terjadilah banjir kedua pada 11.000 tahun lalu. Air laut naik lagi 30 meter selama 2.500 tahun. Semenanjung Malaysia masih menempel dengan Sumatera. Namun Jawa dan Kalimantan sudah terpisah. Laut China Selatan mulai membentuk seperti yang ada hari ini.
Oppenheimer lantas menambahkan, banjir ketiga terjadi pada 8.500 tahun lalu. Benua Sundaland akhirnya tenggelam sepenuhnya karena air naik lagi 20 meter. Terbentuklah jajaran pulau-pulau Indonesia, dan Semenanjung Malaysia terpisah dengan Nusantara.
Meskipun naik perlahan, Oppenheimer mengatakan kenaikan air laut ini sangat berpengaruh kepada seluruh manusia penghuni Sundaland. Mereka pun terpaksa berimigrasi, menyebar ke seluruh dunia.
Pandangan kontroversial dari Oppenheimer ditanggapi beragam oleh para koleganya. Sebagian arkeolog percaya pada bukti-bukti yang dikemukakan Oppenheimer, sementara sejumlah arkeolog yang tetap yakin bahwa orang Indonesia berasal dari Taiwan. Tapi belakangan ini sejumlah arkeolog juga menunjukkan bukti betapa keterampilan lokal, seperti berlayar dan menangkap ikan, telah ada sepuluh ribu tahun lalu, dan bercocok tanam di Indonesia sudah ada lebih dari empat ribu tahun lalu.
Belakangan, kelompok peneliti yang merupakan teman sejawat dari University of Oxford dan University of Leeds mengumumkan hasil penelitiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul:
“Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia” (Soares et al., 2008) dan “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).
Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolitikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.
Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu.
Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya muka laut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.
Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya. Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oceania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan naiknya permukaan laut di ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.
Nah, kini Anda lebih percaya kepada teori yang mana?
Apakah condong kepada pendapat yang selama ini dipegang oleh mayoritas sejarawan bahwa nenk moyang orang Minangkabau berasal dari Melayu Purba yang membawa kebudayaan Dongson, atau teori Oppenheimer yang beranggapan sebaliknya, justru penduduk Sundaland (Nusantara) yang bermigrasi ke Taiwan dan lain-lain akibat Banjir Besar di Sundaland? Kalau Anda setuju dengan Oppenheimer, artinya bangsa kita yang menjadi saudara tua dari bangsa Cina, Taiwan dan Jepang.
Wallahualam.
Berikut ini marilah kita ikuti rangkuman pandangan dan kesimpulan dari para sejarawan terhadap asal penduduk Minangkabau di Sumatera Barat.
Menurut sebagian sejarawan, kebudayaan Minang diperkirakan bermula sekitar 500 tahun SM, ketika rumpun bangsa Melayu Muda masuk ke Ranah Minang membawa kebudayaan Perunggu. Pembauran bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda menurunkan leluhur suku Minangkabau sebagai pendukung kebudayaan Perunggu dan Megalitikum.
Adapun peninggalan jaman pra-sejarah berupa situs-situs Menhir hanya ditemukan di kabupaten Limapuluh Kota (kecamatan Suliki dan Guguk). Situs-situs Megalith tersebut tersebar di daerah Koto Tinggi, Balubus, Sungai Talang, Koto Gadang, Ateh Sudu dan Talang Anau. Di desa Parit (daerah Koto Tinggi) berhasil ditemukan situs Megalith terbanyak yakni 380 Menhir, yang diantaranya mencapai tinggi 3,26m.
Di Minangkabau istilah yang dipakai untuk menhir adalah batu tagak. Istilah ini biasa dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti batu berdiri.
Menhir merupakan bagian dari produk tradisi megalitik yang menggunakan batu-batu besar sebagai material kebudayaannya; mega berarti besar dan lithosberarti batu. Sejarah pendirian menhir telah berlangsung sejak zaman neolitik sekitar 4500 tahun yang lalu. Awal kemunculannya hampir bersamaan dengan produk tradisi megalitik lainnya yang seangkatan seperti dolmen, teras berundak (bertingkat) dan lain-lain.
Di daerah darek, daerah inti kebudayaan Minangkabau, menhir ditemukan paling banyak di kabupaten Limapuluh Kota, kemudian disusul dengan kabupaten Tanah Datar. Di kabupaten Tanah Datar dijumpai ribuan menhir bersamaan dengan temuan-temuan lain seperti batu dakon dan lumpang batu. Menhir-menhir tersebut muncul dalam bentuk yang beragam, ada yang berbentuk tanduk, pedang, phallus dan beberapa bentuk kepala binatang.
Di kabupaten Tanah Datar juga terdapat menhir-menhir yang sebetulnya sudah difungsikan sebagai nisan kubur Islam yang hampir semuanya berorientasi menghadap ke utara-selatan. Dengan demikian dapat dipastikan menhir-menhir di Kabupaten Tanah Datar umurnya jauh lebih muda jika dibandingkan dengan menhir-menhir di Kabupaten Limapuluh Kota.
Melayu Purba Pembawa Tradisi Megalitik ke Minangkabau?
Pada ekskavasi arkeologis yang dilakukan di situs megalitik Ronah, Bawah Parit, Belubus berhasil ditemukan rangka manusia dari penggalian menhir di lokasi tersebut. Di Bawah Parit dan Belubus ditemukan rangka manusia yang berorientasi hadap barat laut – tenggara, sementara di Ronah sebagian berorientasi timur laut – barat daya, dan sebagian lagi berorientasi utara – selatan (Boedhisampurno 1991).
Jenis rangka manusia tersebut dapat digolongkan sebagai ras Mongoloid (Boedisampurno 1991: 41), yang mengandung unsur Austromelanesoid yang diperkirakan hidup 2000-3000 tahun lalu (Aziz 1999).
Menurut Kern dan Heine Geldern, seperti yang dikutip Soekmono (1973), migrasi ras Mongoloid dari daratan Asia ke Nusantara telah berlangsung dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama mulai pada masa neolitikum yang membawa budaya kapak bersegi terjadi sekitar 2000 SM yang oleh para ahli digolongkan sebagai kelompok Melayu Tua (Proto Melayu), sementara itu gelombang kedua muncul pada zaman logam yang membawa kebudayaan Dongson yang dimulai 500 SM, digolongkan sebagai kelompok Melayu Muda (Deutro Melayu). Soekmono mengatakan bahwa pada zaman logam ini disamping kebudayaan logam, juga dibawa kebudayaan megalitik (kebudayaan yang menghasilkan bangunan dari batu-batu besar) sebagai cabang kebudayaan Dongson (Soekmono 1973).
(Dongson adalah nama tempat di selatan Hanoi yang dianggap sebagai asal kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Konon kebudayaan Dongson ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hallstatt, Austria).
Tampaknya kebudayaan ini dikembangkan oleh ras Mongoloid yang berpangkalan di Indo China dan berkembang dengan pesatnya di zaman Megalitikum dan zaman Hindu. Nenek moyang orang Minangkabau itu datang dari daratan Indo China terus mengarungi Lautan Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian memudiki Sungai Kampar, Siak dan Indragiri. Sebagian diantaranya mengembangkan kebudayaan serta peradaban mereka di sekitar Kabupaten Limapuluh Kota sekarang.
Dengan ditemukannya rangka manusia tersebut telah memperkuat teori bahwa telah terjadi migrasi ras Melayu Purba (yang berbahasa Austronesia) ke Sumatera, terutama Sumatera bagian Tengah. Oleh sebab itu barangkali kita sepakat bahwa nenek moyang bangsa Minangkabau yang berasal dari daratan Asia, yang telah datang ke wilayah ini mulai sejak zaman pra-sejarah dapat digolongkan ke dalam Melayu Muda (Deutro Melayu).
Di dalam historiografis tradisional, seperti kaba (tradisi lisan) dan tambo (yang bagi kalangan tertentu mempercayainya 100%) dikatakan Minangkabau terdiri atas tiga luhak, selalu dikatakan dan sudah menjadi paradigma tunggal bahwa Tanah Datar adalah luhak tertua tempat dirintis dan disusun pertama kali adat istiadat Minangkabau (Agam sebagai yang tengah dan Limapuluh Kota dianggap sebagai Luhak Nan Bungsu). Dengan adanya temuan tradisi megalitik di Limapuluh Kota yang lebih tua dari Tanah Datar, paradigma tradisional itu kini dipertanyakan kembali (Herwandi 2006).
Sementara menurut Bellwood (1985), penduduk Sumatera adalah imigran dari Taiwan dengan jalur dari Taiwan ke Pilipina, melalui Luzon terus ke Kalimantan dan kemudian ke Sumatera. Kesimpulan ini diambil Bellwood berdasarkan perbandingan bahasa. Bahasa yang digunakan oleh penduduk Sumatera, menurut Bellwood termasuk kelompok Western Malayo Polynesian (WMP) yang merupakan turunan dari Proto Malayo Polynesian (PMP). PMP adalah turunan dari Proto Austronesian (PAN) yang diperkirakan digunakan oleh penduduk Taiwan pada sekitar tahun 3000 SM.
Dari hasil penelitian, bahasa Minangkabau 50% kognat dengan PMP.
Jadi menurut kajian awal dan bukti linguistis, disimpulkan bahwa dialek bahasa yang konservatif ditemui di kabupaten Limapuluh Kota. Daerah tersebut dihipotesiskan sebagai daerah pertama yang didiami oleh orang Minangkabau di Sumatera Barat, sesuai dengan bukti arkeologis yang dibahas di awal artikel ini.
Dengan demikian cerita yang ada dalam tambo dan kaba bahwa Tanah Datar merupakan daerah tertua di Minangkabau tidaklah masuk akal, hanya suatu mitos belaka. Logikanya, perluasan wilayah Minangkabau dari daratan rendah ke daratan tinggi; melalui sungai atau pantai ke pegunungan (Nadra, 1999).
Pandangan kontroversial Professor Stephen Oppenheimer
Buku Eden in The East karya Professor Stephen Oppenheimer yang mengulas soal Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara mengisahkan bahwa Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi benua dan tempat peradaban manusia di penghujung Zaman Es. Professor Stephen Oppenheimer adalah seorang peneliti dari Universitas Oxford di Inggris, pakar genetika yang juga mendalami antropologi dan folklore yang mengkaji dongeng-dongeng dunia. Oppenheimer meyakini bahwa Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi benua dan tempat peradaban manusia di penghujung Zaman Es. Benua ini disebutnya dengan istilah Sundaland.
Dalam buku tersebut, Oppenheimer seolah memutar balik sejarah dunia. Bila selama ini sejarah mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia, maka Oppenheimer punya tesis sendiri.
Buku Eden in the East merupakan hasil penelitian Oppenheimer selama bertahun-tahun yang dilakukannya di berbagai negara. Benua Sundaland yang disebut oleh Oppenheimer tentu saja tidak bisa dibayangkan seperti bentuk wilayah ASEAN saat ini yang terdiri dari Indonesia, Semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan. Wilayah ini dulunya masih menjadi satu, yaitu Sundaland.
Benua ini menurut Oppenheimer ada pada sekitar 14.000 tahun yang silam, sudah didiami oleh manusia. Saat itu, Taiwan terhubung langsung dengan China. Tidak ada Laut Jawa, Selat Malaka dan Laut China Selatan. Semua adalah daratan kering yang menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan dan China. Yang dari dahulu sudah terpisah lautan adalah Sulawesi, Maluku dan Papua yang memiliki laut dalam.
Menurut Oppenheimer, dari 14.000 tahun lalu itulah Zaman Es mulai berakhir. Oppenheimer menyebutnya banjir besar. Namun menurut dia, banjir ini bukannya terjadi mendadak, melainkan naik perlahan-lahan.
Dalam periode banjir pertama, air laut naik sampai 50 meter. Ini terjadi dalam 3.000 tahun. Separuh daratan yang menghubungkan China dengan Kalimantan, terendam air.
Kemudian terjadilah banjir kedua pada 11.000 tahun lalu. Air laut naik lagi 30 meter selama 2.500 tahun. Semenanjung Malaysia masih menempel dengan Sumatera. Namun Jawa dan Kalimantan sudah terpisah. Laut China Selatan mulai membentuk seperti yang ada hari ini.
Oppenheimer lantas menambahkan, banjir ketiga terjadi pada 8.500 tahun lalu. Benua Sundaland akhirnya tenggelam sepenuhnya karena air naik lagi 20 meter. Terbentuklah jajaran pulau-pulau Indonesia, dan Semenanjung Malaysia terpisah dengan Nusantara.
Meskipun naik perlahan, Oppenheimer mengatakan kenaikan air laut ini sangat berpengaruh kepada seluruh manusia penghuni Sundaland. Mereka pun terpaksa berimigrasi, menyebar ke seluruh dunia.
Pandangan kontroversial dari Oppenheimer ditanggapi beragam oleh para koleganya. Sebagian arkeolog percaya pada bukti-bukti yang dikemukakan Oppenheimer, sementara sejumlah arkeolog yang tetap yakin bahwa orang Indonesia berasal dari Taiwan. Tapi belakangan ini sejumlah arkeolog juga menunjukkan bukti betapa keterampilan lokal, seperti berlayar dan menangkap ikan, telah ada sepuluh ribu tahun lalu, dan bercocok tanam di Indonesia sudah ada lebih dari empat ribu tahun lalu.
Belakangan, kelompok peneliti yang merupakan teman sejawat dari University of Oxford dan University of Leeds mengumumkan hasil penelitiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul:
“Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia” (Soares et al., 2008) dan “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).
Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolitikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.
Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu.
Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya muka laut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.
Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya. Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oceania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan naiknya permukaan laut di ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.
Nah, kini Anda lebih percaya kepada teori yang mana?
Apakah condong kepada pendapat yang selama ini dipegang oleh mayoritas sejarawan bahwa nenk moyang orang Minangkabau berasal dari Melayu Purba yang membawa kebudayaan Dongson, atau teori Oppenheimer yang beranggapan sebaliknya, justru penduduk Sundaland (Nusantara) yang bermigrasi ke Taiwan dan lain-lain akibat Banjir Besar di Sundaland? Kalau Anda setuju dengan Oppenheimer, artinya bangsa kita yang menjadi saudara tua dari bangsa Cina, Taiwan dan Jepang.
Wallahualam.
Sunday, May 10, 2015
Figure: Minyak Buah Merah is the only company that received an Award from Indonesia government for continuation of pandanus conoideus (red fruit / buah merah) conducting.
- As an alternative medicine pandanous conoideus (red fruit / buah merah) is very phenomenal. For a short term pandanous conoideus (red fruit / buah merah) becomes a topic of conversation not only in Indonesia but also the world starts to interest in its intensity. Testimony of pandanous conoideus (red fruit / buah merah) appeared so many that its strengthen the conviction about the success on treatment then its popularity increase amazingly.
- Since Pandanous conoideus / red fruit Oil launched, consumers amazingly responded. That unpredictable reaction is supporting us to give the best service for consumers. As Producer we are not only responsible to produce high quality pandanous conoideus (red fruit / buah merah) Oil but also develop product through continual research. We make collaboration with a few research institutions like Indonesian Institute of science (LIPI) to control our qualities and product development. Now we are combining Pandanous conoideus / red fruit and VCO (Virgin Coconut Oil) as our new product diversification with Indonesian Institute of science. Our Pandanous conoideus / red fruit has registered at Departemen Kesehatan RI (Department of health RI) and POM (Indonesia Food and Drug Administration).
- This website is published with a great respect of our moral responsibility to represent the true information about pandanous conoideus (red fruit / buah merah) among communities.
- Closer Recognizing about pandanous conoideus (red fruit / buah merah)
- At present, pandanous conoideus (red fruit / buah merah) has known not only for people who has diseases but also for communities with healthy life concerned. It is not surprising us when some people have opinion that pandanous conoideus (red fruit / buah merah) is God's help as an alternative treatment since medication is hardly to find.
Amazing
fruit from papua
Buah merah (pandanus
conoides lam) is a wild plant which almost grow at all Papua
region. But most population could seen at Jayawijaya mountain
area(Wamena and Tolikara), Jayapura, Manokwari, Nabire, Timika,
and Ayamaru Sorong.
Local
inhabitants has known this plant as foodstuff and natural dye
for generations.
Traditionally
they are also sure that pandanous conoideus (red fruit / buah
merah) safely consume for skin and eye medicine, and worm
treatment beside food supplement as the other side advantage. So
they has felt the intensity of this pandanous conoideus (red
fruit / buah merah) long time ago.
Taxonomy and Morphology of
pandanous
conoideus (red fruit / buah merah)
In papua
area grow around 30 cultivar of pandanous conoideus (red fruit /
buah merah). But only 4 variety which has high economy value
among others such as merah panjang (long red), merah pendek
(short red), cokelat (brown), and kuning (yellow).
Pandanous
conoideus (red fruit / buah merah) which is now used as medicine
is merah panjang (long red) variety. The size is around 100 cm
length and 18 cm diameter length. The fruit has blunt edge,
cylindrical shape, and heart point with 7.5 kg weight.
fruit
form pandanous family has specific characteristic than other
fruits like its content of very concentrated red color as a
signal that fruit has high beta carotene.
Overview
As an alternative medicine pandanous conoideus (red fruit / buah merah) is very phenomenal. For a short term pandanous conoideus (red fruit / buah merah) becomes a topic of conversation not only in Indonesia but also the world starts to interest in its intensity. Testimony of pandanous conoideus (red fruit / buah merah) appeared so many that its strengthen the conviction about the success on treatment then its popularity increase amazingly.
Since Pandanous conoideus / red fruit launched, consumers amazingly responded. That unpredictable reaction is supporting us to give the best service for consumers. As Producer we are not only responsible to produce high quality pandanous conoideus (red fruit / buah merah) Oil but also develop product through continual research. We make collaboration with a few research institutions like Indonesian Institute of science (LIPI) to control our qualities and product development. Now we are combining Pandanous conoideus / red fruit and VCO (Virgin Coconut Oil) as our new product diversification with Indonesian Institute of science. Our Pandanous conoideus / red fruit has registered at Departemen Kesehatan RI (Department of health RI) and POM (Indonesia Food and Drug Administration)
This website is published with a great respect of our moral responsibility to represent the true information about pandanous conoideus (red fruit / buah merah) among communities.
Closer Recognizing about pandanous conoideus (red fruit / buah merah)
At present, pandanous conoideus (red fruit / buah merah) has known not only for people who has diseases but also for communities with healthy life concerned. It is not surprising us when some people have opinion that pandanous conoideus (red fruit / buah merah) is God's help as an alternative treatment since medication is hardly to find.
Amazing fruit from papua
Buah merah (pandanus conoides lam) is a wild plant which almost grow at all Papua region. But most population could seen at Jayawijaya mountain area(Wamena and Tolikara), Jayapura, Manokwari, Nabire, Timika, and Ayamaru Sorong.
Local inhabitants has known this plant as foodstuff and natural dye for generations.
Traditionally they are also sure that pandanous conoideus (red fruit / buah merah) safely consume for skin and eye medicine, and worm treatment beside food supplement as the other side advantage. So they has felt the intensity of this pandanous conoideus (red fruit / buah merah) long time ago.
Taxonomy and Morphology of pandanous conoideus (red fruit / buah merah)
In papua area grow around 30 cultivar of pandanous conoideus (red fruit / buah merah). But only 4 variety which has high economy value among others such as merah panjang (long red), merah pendek (short red), cokelat (brown), and kuning (yellow). Pandanous conoideus (red fruit / buah merah) which is now used as medicine is merah panjang (long red) variety. The size is around 100 cm length and 18 cm diameter length. The fruit has blunt edge, cylindrical shape, and heart point with 7.5 kg weight.
fruit form pandanous family has specific characteristic than other fruits like its content of very concentrated red color as a signal that fruit has high beta carotene.
this article taken from http://buah-merah.info/bm-overview.php
if you want to order please visit: www.DuaJempol.com
Follow and Join www.Qnet.net with IR ID HY471867
What is Qnet?
QNET is one of Asia’s leading direct selling companies, offering meaningful products in diverse markets. We provide borderless opportunities through our eCommerce platform to everyday people in more than 100 countries.
QNET’s grass-roots business model enables ordinary people from all walks of life to start their own business with minimal overhead. With hard work and dedication, QNET distributors, known as Independent Representatives (IRs) have the opportunity to become economically self-sufficient, raising the standard of life for their families and communities.
QNET’s grass-roots business model enables ordinary people from all walks of life to start their own business with minimal overhead. With hard work and dedication, QNET distributors, known as Independent Representatives (IRs) have the opportunity to become economically self-sufficient, raising the standard of life for their families and communities.
At QNET, we are driven by two important philosophies: RYTHM and InService.
QNET’s founders are profoundly inspired by the life and work of Gandhi, a great leader, humanitarian and activist. The teachings of Gandhi laid the foundation for RYTHM − Raise Yourself to Help Mankind. Empowering others to succeed, in order to be successful lies at the core of our business.
We advocate the concept of In-Service as an important characteristic of leadership. Our founders have instilled a very strong culture of service above self, in both the employees and the network. We believe that serving others with humility is the true hallmark of a leader.
QNET recognises that people are our greatest assets. Our distribution network’s boundless energy is fueled by a collective aspiration to achieve financial independence. We are dedicated to giving our IRs the tools and education they need to strengthen their understanding of our products and business model and we are engaged in developing them on a personal level.
QNET recognises that people are our greatest assets. Our distribution network’s boundless energy is fueled by a collective aspiration to achieve financial independence. We are dedicated to giving our IRs the tools and education they need to strengthen their understanding of our products and business model and we are engaged in developing them on a personal level.
At QNET, we celebrate ethnic and cultural diversity. Our leadership team and employees are drawn from more than 30 different countries and our customers are present in more than 100 countries. We take pride in being the veritable United Nations of network marketing!
Download the QNET Tools App from the Apple App Store to have online access to all QNET publications such as the Company Profile, Business Planner, Product Portfolio and many more; and enjoy the convenience of carrying your digital resources around with you wherever you are.
Follow and Join www.Qnet.net with IR ID HY471867
Business Income www.QNet.net
Follow and Join www.Qnet.net with IR ID HY471867
What is Qnet?
QNET is one of Asia’s leading direct selling companies, offering meaningful products in diverse markets. We provide borderless opportunities through our eCommerce platform to everyday people in more than 100 countries.
QNET’s grass-roots business model enables ordinary people from all walks of life to start their own business with minimal overhead. With hard work and dedication, QNET distributors, known as Independent Representatives (IRs) have the opportunity to become economically self-sufficient, raising the standard of life for their families and communities.
QNET’s grass-roots business model enables ordinary people from all walks of life to start their own business with minimal overhead. With hard work and dedication, QNET distributors, known as Independent Representatives (IRs) have the opportunity to become economically self-sufficient, raising the standard of life for their families and communities.
At QNET, we are driven by two important philosophies: RYTHM and InService.
QNET’s founders are profoundly inspired by the life and work of Gandhi, a great leader, humanitarian and activist. The teachings of Gandhi laid the foundation for RYTHM − Raise Yourself to Help Mankind. Empowering others to succeed, in order to be successful lies at the core of our business.
We advocate the concept of In-Service as an important characteristic of leadership. Our founders have instilled a very strong culture of service above self, in both the employees and the network. We believe that serving others with humility is the true hallmark of a leader.
QNET recognises that people are our greatest assets. Our distribution network’s boundless energy is fueled by a collective aspiration to achieve financial independence. We are dedicated to giving our IRs the tools and education they need to strengthen their understanding of our products and business model and we are engaged in developing them on a personal level.
QNET recognises that people are our greatest assets. Our distribution network’s boundless energy is fueled by a collective aspiration to achieve financial independence. We are dedicated to giving our IRs the tools and education they need to strengthen their understanding of our products and business model and we are engaged in developing them on a personal level.
At QNET, we celebrate ethnic and cultural diversity. Our leadership team and employees are drawn from more than 30 different countries and our customers are present in more than 100 countries. We take pride in being the veritable United Nations of network marketing!
Download the QNET Tools App from the Apple App Store to have online access to all QNET publications such as the Company Profile, Business Planner, Product Portfolio and many more; and enjoy the convenience of carrying your digital resources around with you wherever you are.
Follow and Join www.Qnet.net with IR ID HY471867
www.DuaJempol.com
adalah Online Store pertama yang menyuguhkan bermacam macam produk
with cheerfull environment dengan berbagai macam produk
pembayaran dapat dilakukan dengan berbagai macam metode
Cerdit Card (Visa & Master Card)
Mandiri Click Pay
Danamon
Dompetku Indosat
IB Muamalat
T-Cash
XL Tunai
CIMB click
adalah Online Store pertama yang menyuguhkan bermacam macam produk
with cheerfull environment dengan berbagai macam produk
pembayaran dapat dilakukan dengan berbagai macam metode
Cerdit Card (Visa & Master Card)
Mandiri Click Pay
Danamon
Dompetku Indosat
IB Muamalat
T-Cash
XL Tunai
CIMB click
Qnet Bussines
ini adalahBisnis Multi Level Marketingku
PRODUK TERBAIK DALAM BISNIS YANG TEPAT (Registrasi www.Qnet.net : dengan memasukkan IR ID HY471867)
QNET adalah komunitas belanja dan bisnis online terbesar di dunia... dan sejak tahun 1998, telah menjadi rumah bagi masyarakat jenis baru yang sehat, bahagia dan sukses dari segala usia, ras, gender dan status sosial ekonomi.
Sebagai perusahaan penjualan langsung yang mapan dan dinamis, kami memberikan kerangka kerja dan alat yang membuat para anggota kami dapat dengan aktif meningkatkan kualitas hidup mereka melalui produk gaya hidup bernilai tambah dan melalui peluang bisnis pemasaran jaringan kami serta Skema Kompensasi yang menarik.
Bagaimana caranya? Kami menawarkan produk-produk terbaik dalam bisnis yang tepat. Platform eCommerce yang canggih dan merupakan produk milik kami pribadi menjadi fondasi kami, memberdayakan eStore QNET bagi para pembeli, dan Kantor Virtual QNET bagi para pembangun bisnis. Kami menawarkan peluang wirausaha yang didukung sepenuhnya untuk mempromosikan bisnis dan portofolio produk QNET pada orang lain. Dengan atau tanpa ketersediaan peluang bisnis, QNET menjual beragam produk secara eceran yang meningkatkan kehidupan sehari-hari para pelanggan kami di seluruh dunia.
Pendaftaran Bisnis dan Penjualan Qnet www.Qnet.net daftar dengan IR ID HY471867
Product product Exclusive
Subscribe to:
Posts (Atom)
Popular Posts
-
It would be impossible to visit or live in Indonesia and not be exposed to one of the country's most highly developed art forms, batik....
-
Borneo tampaknya selalu menyulap gambar mistik dari dunia yang tidak dikenal. Nama yang sangat nya menunjukkan hutan belantara dan dunia pen...
-
Balibatiku - Bali batik, bali sarong and accessories History of Batik Batik is generally thought of as the original Indonesian textile....
-
www.DuaJempol.com adalah Online Store pertama yang menyuguhkan bermacam macam produk with cheerfull environment dengan berbagai macam prod...
-
Tata Artistik Teater A. PENGERTIAN TATA ARTISTIK TEATER Pengertian tata artistik adalah penampakan visual yang dibuat oleh t...
-
Leather Bag : Hello....We are selling Leather Bags for Woman, this Leather Bags very Beautiful.... Please see and Share... the Video















.jpg)
%2B(1).jpg)






.jpg)
%2B(1).jpg)

